Selasa, 23 Februari 2016

IBUKU SAYANG


ilustrasi
Oleh: Elesia Maria Tamba.  “Sasy, Sandy..!! Ayo lekas sarapan nak.Nanti kalian telat ke sekolah.”Ibu setengah berteriak memanggil kami berdua.
Aku dan Sasy, kakaku, hanya beda umur satu tahun. Aku kelas 4 SD sedangkan kakak kelas 5 SD.
Seperti biasa, sarapan sehat tiap hari yang terdiri dari nasi dan telur mata sapi dipadu dengan susu  cokelat segelas penuh.
Aku dan kakak selalu menaruh kecap manis di atas telur untuk menambah nikmatnya.
“Ayo di makan sayang, jangan sampai ada sisa ya.”Ucap ibu sambil bersiap mengantar kami ke sekolah.
Aku dan kakak berada di sekolah yang sama. Sekalipun kami bisa menaiki bis sekolah, Ibu bersi keras untuk tetap mengantar dan menjemput kami.
Setelah sarapan, kami masuk ke dalam mobil dan seperti biasa, mengambil ponsel mama dan mulai memainkan game.
Di persimpangan jalan, mobil berhenti dan Ibu membalikkan badannya. “Anak-anak ku sayang, Ibu tidak suka melihat kalian bermain game di dalam mobil.” Ibu mengambil kembali ponselnya.
“Aduh, Bu? Sudah mau gameover.”Kakak sangat kesal.
“Itu tidak bagus untuk mata kalian sayang.”Jawab mama lembut.Itu adalah ciri khas mama dalam menasehati yang malah membuat kami enggan untuk membantah.
Hanya wajah cemberut yang biasa kami tunjukan jika tidak setuju dengan perintahIbu.
“Ma, kenapa lama sekali berhenti. Ayo jalan dong, tuh di depan sudah tidak ada lagi kendaraan yang lewatkan?” ucap kakak, masih dengan nada kesal.
“Sabar dong sayang.Kan lampunya masih merah.”
“Maksudnya, Ma?” tanyaku heran.Sudah hampir setahun aku diantar mama sekolah, tetapi aku tidak telalu memperhatikan itu karena selalu asik bermaingame, atau tertidur pulas di dalam mobil.
“Coba lihat sayang, lampunya ada berapa ya?”Ibu menunjuk lampu lalu lintas yang tepat berada di depan kami.
“Ada tiga, Ma. Ada warna merah, kuning, danhijau. ”Jawabku cepat.
“Wah, pintar anak mama.Tahu dari mana sayang?Tanya mama lagi.
“Di buku pelajarankan ada sih, Ma.”Jawab kakak Jutek.
Aku hanya menunggu mama menjawab pertanyaanku.Tidak menghiraukan kakak yang sudah dari tadi melipat tangannya karena kesal.
“Kalau warna merah berarti tandanya semua kendaraan harus berhenti. Kalau tanda kuning tandanya pelan-pelan. Dan hijau tandanya…”Belum lagi Ibu selesai menjelaskan, kakak sudah berbicara.
“Ma, itu Linda, temanku. Aku jalan sajaya..dekat lagi kok..” sembari membuka pintu kakak berlari keluar mobil.
“Tunggu San..!  Sandy!!” Ibu berteriak.
“Bu..lampunya hijau..” Aku menunjuk, tapi perhatian Ibu tidak teralihkan.
Dan tiba-tiba semua kendaraan yang lama terdiam, bergerak cepat seperti mengejar waktu di pagi hari, bunyi klakson terdengar riuh.Ibu tiba-tiba bingung dan takut. Ia ingin memarkirkan mobilnya sambil sesekali melihat kakak, yang entah dimana.
Brakkkkk… suara keras terdengar di seberang jalan.
“Tabrak lari!! Tabrak lari!!” semua orang membentuk kerumunan di tengah macetnya jalan.
Ibu tergesa - gesa keluar dari mobil.Aku pun mengikutinya. Ibu sepertinya tampak kacau, sampai-sampai ia sama sekali tidak menghiraukanku yang memanggilnya.
“Ma…mama.. Mau kemana?”
Mama masih diam, ia berjalan lebih cepat memasuki kerumunan orang.
“Sandyyy!!!!  Anakku…” Terdengar suara mama berteriak. Aku mencari tetapi mama tetap juga tidak tampak. Aku mulai menerobos kerumunan dan mendapatkan mama yang sedang memeluk kakak yang tergeletak di aspal.
“Cepat..cepat.. Bawa ke rumah sakit…” seorang bapak datang dan menggendong kakak ke dalam mobil Ibu.
Sesampainya di rumah sakit, kakak langsung ditangani dokter.
Ibu terduduk lemas di depan ruang UGD.
“Ibu…” panggilku pelan. Aku menangis melihat Ibuku yang tidak pernah seperti itu. Ia sangat menyalahkan dirinya.
Ibu menatapku sambil tersenyum, memelukku dan berkata. “Tidak apa-apa sayang. Kakak pasti baik-baik saja.”
“Kenapa kakak seperti itu Ibu?Apa dia ditabrak orang?”Tanya ku ingin tahu. “Ia sayang. Itu karena kakak tidak melihat lampu lalulintas sudah hijau, tandanya semua kendaraan sudah bisa bergerak maju.” Ibu mengelus rambutku. “Nanti Sandy jangan seperti itu ya nak.”
Aku mengangguk pelan. Kemudian Dokter keluar dan memberi tahukan bahwa kakak baik-baik saja. “Para perawat sedang membersihkan lukanya. ”Dokter menyudahi kalimatnya dan pergi. Aku dan Ibu sangat lega. ***

 Harian Analisa - Minggu, 20 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar