Cerpen
ilustrasi
Oleh: Elesia Maria Tamba. Hari minggu pun tiba, aku dan ibu siap-siap pergi ibadah sore. Kebetulan ayah ada urusan pagi hari, jadi kami ibadah di sore hari. Tidak seperti biasa, sore itu banyak sekali anak-anak seumuranku yang berpakaian aneh.
“Ibu, coba lihat! Mereka itu memakai apa? Apakah itu sejenis baju untuk yang dipakai bermain?”
“Bukan nak. Mereka baru saja selesai salat.” Jawab ibu.
“Salat? Apa itu bu??” tanyaku ingin tahu. Aku masih terheran-heran dengan pakaian yang tidak biasa kulihat itu dan topi yang sedikit asing bentuknya. Atau karena baru kali ini aku keluar sore hari ke kota dan baru menyadarinya.
“Sama seperti kita sayang. Kalau kita namanya ibadah, mereka namanya salat” ibu tersenyum-senyum dengan keingin tahuanku. Sedangkan ayah masih sibuk menyetir mobil sambil mendengarkan pembicaraanku dengan ibu.
“Kenapa pakaian mereka dengan kita berbeda ibu? Apa kita tidak sama dengan mereka? Mereka tidak ke gereja?”. Aku semakin bingung.
“Sayang, berapakah jumlah agama yang semalam kamu baca di atlasnya ayah?” Tanya ibu sambil mengelus lembut kepalaku.
“Ada lima ibu” jawabku mantap. Aku sering membaca atlas usang yang sudah berapa puluh tahun lalu dibeli ayah. Walaupun sudah usang, dan kertas nya sudah mulai berwarna coklat, tapi aku sangat senang melihat gambar peta, agama, rumah adat dan warna-warna bendera yang menarik di dalamnya.
“Coba sebutkan sayang.” Ucap ayah.
“Islam, Katholik, Kristen Protestan, bu…..” Aku mulai lupa dua agama lagi.
“Buddha dan Hindu” sambung ibu “Setiap agama memiliki cara ibadah dan berpakaian yang berbeda kan? ada gambarnya juga kan?.” Ibu menjelaskan dengan sangat singkat dan semudah mungkin agar aku bisa mengerti.
Aku mengangguk. Aku ingat benar, ada gambar orang di samping tulisan setiap agama dengan menggunakan pakaian berbeda. Juga hari raya mereka juga tertera jelas. “Jadi mereka yang mana ibu?”
“Coba ingat-ingat dulu. Pakaian mana yang cocok dengan mereka di Atlas yang Lisa lihat.”
Aku berusaha mengingat tapi terus terang, aku sama sekali tidak bisa.
“Mereka agama Islam sayang.” Ibu langsung membantuku.“Sekalipun begitu, mereka juga saudara kita.” Ucap ibu. “Jadi tidak hanya teman-teman Lisa yang di gereja saja sayang, Melisa punya banyak teman nanti di luar sana. Nanti kalau sekolah, semakin banyak looh..”
“Wahhhhh… benarkah ibu?” Aku sangat senang sekali, membayangkannya saja sudah sangat menggembirakan
Ibu mengangguk pelan. “Ia sayang.”
“Kapan Melisa sekolah, Yah? Melisa pengen menambah teman lagi, pasti sangat mengasyikkan.” Tanyaku pada Ayah
Ibu tertawa. “Sabar sayang, kamu belum cukup umur.” Ayah juga ikut tertawa, “Kan kita akan punya tetangga baru dari Jawa, ayah dengar ada anak seumuran kamu tuh.”
“Apa?? benarkah??” Aku senang sekali. Sejak aku berumur tiga tahun, kami pindah ke lokasi yang jauh dari kota. Kata ibu, itu untuk kebaikanku agar tidak sering menghirup abu dan asap, sebab hidungku gampang meler.
“Kita lihat saja lusa sayang, mereka akan sampai lusa.” Kata ayah. “Ayo, kita sudah sampai.”
“Baiklah ayah.” Aku langsung bergegas berlari ke aula yang berada tepat di belakang Gereja. Setiap hari minggu, anak-anak yang berada di bawah lima tahun biasanya dikumpulkan di aula. Itu dimaksudkan agar anak-anak yang masih kecil diajarkan untuk mengenal Tuhan dengan cara yang sederhana. Dan dinamakanlah itu Sekolah Minggu. Biasanya kegiatannya lebih banyak bernyanyi, dimaksudkan agar anak-anak tidak cepat merasa bosan.
Esok harinya, tetanggaku sudah tiba di rumah mereka. Aku mengintip dari jendela rumah dan ternyata bukan hanya satu. Ternyata ada dua keluarga yang pindah ke dekat rumah kami. Itu sangat menyenangkan. Ibu dan aku datang mengunjungi sambil sedikit membantu-bantu.
Mereka sangat senang kami datang dan menyambut kami dengan ramah.
“Hai..” aku melambaikan tangan kepada anak tetanggaku. “Aku Melisa.” Aku mengulurkan tanganku, ingin menjabatnya.
“Halimah.” Balasnya lembut. Sambil membalas jabatan tangannku.
Ibu memberikan kue bolu coklat yang kami buat untuk menyambut kedatangan mereka, hal itu biasa ibu lakukan apabila ada tetangga baru. Ibu Halimah sangat senang, ia menciumku, katanya aku cantik dan aku sangat senang.
Aku membantu Halimah membereskan mainannya di kamar. Ia memberikanku salah satu boneka Doraemonnya. Aku sangat senang. Tapi ibu segera mengajakku pulang, karena kami akan mengunjungi tetangga yang lain.
Aku melihat seorang ibu menggendong beberapa boneka besar dari mobil ke dalam rumah. Ternyata tetangga kami yang lain memiliki mata yang kecil, mereka sangat cantik. Kulitnya yang putih membuatku bertanya kepada ibu. “Ibu, apa mereka juga Islam?”
“Bukan sayang, mereka agama Buddha.” Ibu pun menyuruhku membawa makanan yang akan kami bawa kepada mereka.
“Wahhhh… aku punya banyak teman yang berbeda ya.. aku senang sekali. “Semoga teman ku ada juga yang agama Hindu dan Kristen Protestan.” Ucapku senang.
“Pasti sayang, nanti di sekolah kamu pasti punya banyak teman dari latar belakang yang berbeda.” Ibu mengelus rambutku. Kami pun segera berangkat ke tetangga sebelah, dan ternyata anak mereka belum sampai. Katanya akan tiba satu minggu lagi bersama kakek dan neneknya.
“Yahh…..” spontan aku berucap.
Wanita itu tertawa dan mengelus pipiku,” sabar ya sayang. Nanti kalau sudah sampai, akan menyuruhnya langsung datang ke rumahmu”
“Benarkah itu tante?” tanyaku memastikan.
Ia mengangguk. Kemudian kamipun pamit pulang setelah beberapa saat berbincang. Ibu tidak mau mengganggu waktu mereka yang sedang sibuk membenahi belakang rumahnya.
Harian Analisa - Minggu, 8 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar