Selasa, 23 Februari 2016

Menyongsong Diri Baru


Terik matahari membakar hatiku
Melumatkannya dalam rintihan-rintihan panas yang melumas
Berbaur mencari penyejuk alami dengan setetes keabadian
Pelan Gemercik air membasahi kulitku
Meresap rasanya sampai ke dalam urat nadi
Dinginya membuat sejuk darahku yang baru mendidih
Hidupku tetap bersuka menikmati segala hikmat
Kendati parau waktu menyaksikan kekuatiran
Tetap tak akan hidup dalam embun sesaat
Aku ingin hikmat ini abadi, meski pantau waktu tetap berlanjut
Walau kekuatiran kerab menghianat
Aku ingin hidup tetap mermartabat



                                                                                    By : Elesia Maria Tamba

BARISKU


Luhurkah aku
Menghayati jiya kandas ditangan
Menepis benar dihati
Barisku kini mulai merah

Taktis kah aku
membatu keras di suci
memberontak di benar
barisku kini merah

Legamlah aku
Cuci otak ku
Dengan rusaknya tali nadiku
Barisku kini sudahlah hitam


By: elesia

Seratus Butir Kekecewaan

Jika aku lahir untuk mencoba kegagalan agar belajar mengiklaskan mereka menang
Apa salah jika aku kecewa untuk pertama kali dan sampai kesekian kalinya?
Bukankan ini proses untuk menyadarkanku bahwa kemenangan orang lain itu bukan milikku
Yang jadi milikku adalah kekalahanku dan semua sisi serata isi yang ada di dalamnya
Bukankah kekalahan dan kemenangan sama-sama memiliki angka?
apa yang harus ku perbaiki? Usaha untuk menggapai kemenanganku yang diambil orang atau
Kegagalanku yang menjadi kunci masa depanku? Bukankah kegagalan hanya dianggap buruk bila yang memikirkannya jelas menolaknya?
Ini keseratus kalinya, aku tak ingin kegagalan ini sia-sia kuterima selama ini
Ku pejamkan sejenak mata, aku lelah berdiri di tepi gundahku meratap diri yang susah mekar
Sudah seratus butir kekecewaan ku kantongi dan ku simpan rapi di laci-laci memoriku
ku tak sadar begitu sabar memeliharanya dengan baik sampai terkumpul banyak
Kekalahan yang ku rasakan hampir  menutup semua kecemasan akan kegagalan
Sampai aku terjaga di ujung pagi… ku sadari ku masih sendiri…
Derita yang lama ku cintai membuatku lebih, sakit yang dulu ku nikmati membuatku lebih dan lebih lagi
Aku mekar… jiwa ku kan besar, karena aku hidup karena jiwa yang sudah tercerai berai


By:  elesia

SINGGASANA TERINDAH


Merahku berkobar ria
Saat ku menapak di tanah air beta
Merahku berkobar ria
Saat tubuhku menghirup sisa perjuangan
Yang baik benar rupanya

Kutabur harapan dan  tekad disini
Disini disinggasanaku
Di tempat aku lahir, bernafas
Serta berjuang untuk hidup

Kalau aku risau singgasanaku ini beralih tangan
Maka kesungguhanku memperjuangkan dengan usaha
Sungguh ini singgasanaku terindah
Tanah air tumpah darah
Yang benar-benar mendarah ditubuhku

Setumpuk cinta, rasa dan karya ku perjuangkan
Hanya untuk singgasanaku terindah
Darah, tulang dan nafasku adalah untuk singgasana
Singgasana tanah air Beta
Indonesia Tercinta
By: Elesia Maria Tamba

Insan Buangan

Apa yang terjadi
Terpuruk sudah singgasanaku
Dilanda kemunafikan semu
Dan pemihakan kuat hitam dunia
Nelangsanya diri ini
Melawan arus takut,
Mundur, pengecut
Jadi, mau apa?
Terakhir sudah jalanku
Berdiri tetap ditengah
Sebagai orang pengecut
Yang takut tak hidup
Inilah awal dari kesengsaraan
Insane buangan yang tak ada akhir


By: Elesia

Sudah Mulai Gila


Bukankah pertemuan ini mengisyaratkan air mata untuk membebaskan diri,
mengunci rapat sisa-sisa gemerlap kemenangan hati, kebanggaan diri
Ada yang hilang dalam pertemuan ini, tapi aku tak bisa segara mengetahuinya
Aku tidak mengenalinya lagi, dia berbeda sekarang, dia sudah mulai gila.
Gemercik api cinta tak lagi menjadi jembatan pertemuan asing ini
Dia jauh, lebih jauh dari apa yang menjadi harapan orang sengsara zaman dulu
Bahkan ia melewati batas ujung atasnya, ia menjadi teman tak terhingga di kekayaan, tapi tercela di moral.
Pertemuan ini menyudutkanku jauh kebelakang, dinding pun berbisik padaku untuk segera menjauh selagi anggurku masih merah cair menyegarkan.
Dia menghilang, sekarang hilang dari daftar teman terbaikku. Kini ia menjadi peringkat pertama di setiap daftar buruk di otakku
Pertemuan ini menjanjikanku sesuatu, bahwa dunia bisa berubah tapi uang adalah kunci sesatnya
Pertemuan ini mengajarkanku sesuatu, bahwa kepercayaan hanya akan menjadi serpihan buah kemiri bila kulitnya sudah dihancurkan batu.

Dan Pertemuan ini mengingatkanku sesuatu, bahwa nyatanya aku tidak berubah sedikitpun, yang berubah hanya kepribadian uang yang kini mulai murah hati di saku-saku hatiku.

Ada Benci Disini



Ada benci disini
Benci yang hari tiap hari bertumpuk membentengi maaf
setiap hari maaf berpencar mencari lubang pengampunan
Tapi benci lebih pintar untuk membentengi diri dengan keangkuhan
Sampai hujan kasih ikut meleburkan diri menghambat benteng benci semakin tinggi
Tetap saja benci tak setengah-setengah, sedangkan maaf hampir menyerah

Ada benci disini
Saat petir pun murka, benci tetap menggalang semangat diri
Kewajiban maaf kini bersisa duka, disisihkan penyesalan dan kehilangan pengampunan
Petir pun menemani maaf untuk mendapat sebuah pengampunan, benci semakin gila
Benteng kini namanya pencakar langit, itu jelas membuktikan perasaannya
Maaf menjerit, serasa benci memang benar saat ini, maaf pun terkapar

 Ada benci disini
Benci yang bertindak berlebihan untuk menerima seorang maaf atas kesalahannya sendiri
Maaf mulai tak bergerak, ia lemas untuk lagi bertindak, hati benci bergejolak duka
Benci menyesal tapi tak ingin tampak murahan, ia masih bebal
Maaf pun hanya sanggup berbisik pelan kepada angin
“bantulah benci untuk turun saat ia sudah lelah” dan maaf pun diam tak bergerak.


Karya : EM

NYALA-NYALA API

NYALA-NYALA API


Mentari menyala disini
Diiringi masuk angin dan melekat di dalam diri
Embun-embun nakal masih tampak sedikit bermimpi
Ia tidak tahu malam sudah berganti, dini hari pun sudah terlewati
sampai hujan tak lagi menemani pagi, disini masih ada yang sedang risau menanti
Alunan takdir tak bisa membangun ilusi, ia menekan batin ini sampai tersiksa setengah mati
Jauh di dalam sana, hati gelap tak berwarna. Entah apa yang dicarinya
Cintaku sayang,  risau ini semakin menekan-nekan diri, memaksa rasa hina ini hilang hanya untuk hatimu
Nyala-nyala api menyebar ke seluruh hati ,tak ada kesempatan akan pengharapan yang berarti
Di ujung risau masih ada sisa rindu yang tersisih rapi untuk dirimu
Masih ada kata cinta sendiri yang belum tuntas mengilhami diri,
yang tak sanggup berkutik, yang tak bisa menjerit pada tembok tiang kasih yang masih tegak berdiri
cintaku sayang, aku lelah untuk mu. Aku sadar selama ini  cintaku mulai hilang untuk sebuah harga diri.



Karya: Elesia Maria Tamba

Menyongsong Diri Baru



Terik matahari membakar hatiku
Melumatkannya dalam rintihan-rintihan panas yang melumas
Berbaur mencari penyejuk alami dengan setetes keabadian
Pelan Gemercik air membasahi kulitku
Meresap rasanya sampai ke dalam urat nadi
Dinginya membuat sejuk darahku yang baru mendidih
Hidupku tetap bersuka menikmati segala nikmat
Kendati parau waktu menyaksikan kekuatiran
Tetap tak akan hidup dalam embun sesaat
Aku ingin nikmat ini abadi, meski pantau waktu tetap berlanjut
Walau kekuatiran kerab menghianat
Aku ingin hidup tetap mermartabat



EM

Sahabat, kau sungguh bersungguh-sungguh.

Sahabat, kau sungguh bersungguh-sungguh.



Dan bila sebuah kebenaran menjadi penjauh jarak
Jujurlah akan itu, kau menyelamatkan nyawaku meski mengalami penolakan
Lalang setinggi apapunpun tidak akan pernah setinggi bunga  mawar di atas dinding
Dan jika kata hati yang paling menjijikan adalah memaafkanmu
Maka berkenanlah memberikanku kesempatan untuk menulisnya, jika tak sanggup mengucapkannya
Aku meragukan sandiwara cantik yang kau lakukan selama ini berhasil mengalahkan kejujuranku
Banyak lampu berkelap-kelip menghiburku, berusaha memutar film kebenaran di retinaku
Sahabat, kau sungguh bersungguh-sungguh.

Dan bila sebuah kebenaran ditukar dengan tetesan darah
Ikatlah aku, tahan diriku erat dan sayat lah khilafku dari nadi-nadi nyawaku
Bintang yang jauh pun takkan hilang cahayanya bila ada matahari dibelakangnya, hanya saja ia memberinya waktu untuk bersinar lebih terang.
saat matahari tak menemani lagi, ia menjadi penjanji sejati di malam hari
Dan jika kata hati yang paling kutakuti adalah berserah diri padamu
Maka berkenanlah membalutkanku pakaian cantik dan perhiasan antik, jika tak ada lagi yang bisa kubanggakan
Aku menderita lama akan kesalahan diagnosa pikiranku sendiri untuk sebuah kenyamanan
Banyak doa-doa mendekapku, berusaha membangunkan alam sadarku
Sahabatku sayang, kau terlalu bekerja keras untuk membuatku percaya tipu muslihatmu

Karya : Elesia M.T

FANTASI DOSA

Bintang melipat kedua tangannya, banyak kata yang terucap dari bibirnya. kata yang terangkum itu ia sebut dengan doa. Bintang berharap banyak warna-warna yang mencoret-coret kertas putih di hatinya. ia ingin semua indah dipandang. Ia mulai memainkan warna, tapi saat kuas melayangkan warna coklat kegemarannya, tiba2 tangannya terhenti. Hatinya menggelitik saat mendengar seseorang yang nyatanya perkataannya bisa dipercayakan 60% justru ia pertimbangkan lagi : 100%, 'malas' itu adalah dosa! bintang mulai berfantasi sesaat setelah mendengarnya. berpura-pura tidak mendengar, walau kerap ada rasa lain yang mengganggu hatinya. warna masih berlari-lari dengan kuas.. tapi pikirannya membuat warna yang datang hanya hitam saja. bintang sibuk mencari alasan utuk sebuah 'malas’ alias dosa!! hahahaah..gilaaa..!!!. sudah buat dosa pun masih saja cari alasan, gumamnya sendiri.

AKU DAN MEREKA

Cerpen

ilustrasi
Oleh: Elesia Maria Tamba. Hari minggu pun tiba, aku dan ibu siap-siap pergi ibadah sore. Kebetulan ayah ada urusan pagi hari, jadi kami ibadah di sore hari. Tidak seperti biasa, sore itu banyak sekali anak-anak seumuranku yang berpakaian aneh.
“Ibu, coba lihat! Mereka itu memakai apa? Apakah itu sejenis baju untuk yang dipakai bermain?”
“Bukan nak. Mereka baru saja selesai salat.” Jawab ibu.
“Salat? Apa itu bu??” tanyaku ingin tahu. Aku masih terheran-heran dengan pakaian yang tidak biasa kulihat itu dan topi yang sedikit asing bentuknya. Atau karena baru kali ini aku keluar sore hari ke kota dan baru menyadarinya.
“Sama seperti kita sayang. Kalau kita namanya ibadah, mereka namanya salat” ibu tersenyum-senyum dengan keingin tahuanku. Sedangkan ayah masih sibuk menyetir mobil sambil mendengarkan pembicaraanku dengan ibu.
“Kenapa pakaian mereka dengan kita berbeda ibu? Apa kita tidak sama dengan mereka? Mereka tidak ke gereja?”. Aku semakin bingung.
“Sayang, berapakah jumlah agama yang semalam kamu baca di atlasnya ayah?” Tanya ibu sambil mengelus lembut kepalaku.
“Ada lima ibu” jawabku mantap. Aku sering membaca atlas usang yang sudah berapa puluh tahun lalu dibeli ayah. Walaupun sudah usang, dan kertas nya sudah mulai berwarna coklat, tapi aku sangat senang  melihat gambar peta, agama, rumah adat dan warna-warna bendera yang  menarik di dalamnya.
“Coba sebutkan sayang.” Ucap ayah.
“Islam, Katholik, Kristen Protestan, bu…..” Aku mulai lupa dua agama lagi.
“Buddha dan Hindu” sambung ibu “Setiap agama memiliki cara ibadah dan berpakaian yang berbeda kan? ada gambarnya juga kan?.” Ibu menjelaskan dengan sangat singkat dan semudah mungkin agar aku bisa mengerti.
Aku mengangguk. Aku ingat benar, ada gambar orang di samping tulisan setiap agama dengan menggunakan pakaian berbeda. Juga hari raya mereka juga tertera jelas. “Jadi mereka yang mana ibu?”
“Coba ingat-ingat dulu. Pakaian mana yang cocok dengan mereka di Atlas yang Lisa lihat.”
Aku berusaha mengingat tapi terus terang, aku sama sekali tidak bisa.
“Mereka agama Islam sayang.” Ibu langsung membantuku.“Sekalipun begitu, mereka juga saudara kita.” Ucap ibu. “Jadi tidak hanya teman-teman Lisa yang di gereja saja sayang, Melisa punya banyak teman nanti di luar sana. Nanti kalau sekolah, semakin banyak looh..”
“Wahhhhh… benarkah ibu?” Aku sangat senang sekali, membayangkannya saja sudah sangat menggembirakan
Ibu mengangguk pelan. “Ia sayang.”
“Kapan Melisa sekolah, Yah? Melisa pengen menambah teman lagi, pasti sangat mengasyikkan.” Tanyaku pada Ayah
Ibu tertawa. “Sabar sayang, kamu belum cukup umur.” Ayah juga ikut tertawa, “Kan kita akan punya tetangga baru dari Jawa, ayah dengar ada anak seumuran kamu tuh.”
“Apa?? benarkah??” Aku senang sekali. Sejak aku berumur tiga tahun, kami pindah ke lokasi yang jauh dari kota. Kata ibu, itu untuk kebaikanku agar tidak sering menghirup abu dan asap, sebab hidungku gampang meler.
“Kita lihat saja lusa sayang, mereka akan sampai lusa.” Kata ayah. “Ayo, kita sudah sampai.”
“Baiklah ayah.” Aku langsung bergegas berlari ke aula yang berada tepat di belakang Gereja. Setiap hari minggu, anak-anak yang berada di bawah lima tahun biasanya dikumpulkan di aula. Itu dimaksudkan agar anak-anak yang masih kecil diajarkan untuk mengenal Tuhan dengan cara yang sederhana. Dan dinamakanlah itu Sekolah Minggu. Biasanya kegiatannya lebih banyak bernyanyi, dimaksudkan agar anak-anak tidak cepat merasa bosan.
Esok harinya, tetanggaku sudah tiba di rumah mereka. Aku mengintip dari jendela rumah dan ternyata bukan hanya satu. Ternyata ada dua keluarga yang pindah ke dekat rumah kami. Itu sangat menyenangkan. Ibu dan aku datang mengunjungi sambil sedikit  membantu-bantu.
Mereka sangat senang kami datang dan menyambut kami dengan ramah.
“Hai..” aku melambaikan tangan kepada anak tetanggaku. “Aku Melisa.” Aku mengulurkan tanganku, ingin menjabatnya.
“Halimah.” Balasnya lembut. Sambil membalas jabatan tangannku.
Ibu memberikan kue bolu coklat yang kami buat untuk menyambut kedatangan mereka, hal itu biasa ibu lakukan apabila ada tetangga baru. Ibu Halimah sangat senang, ia menciumku, katanya aku cantik dan aku sangat senang.
Aku membantu Halimah membereskan mainannya di kamar. Ia memberikanku salah satu boneka Doraemonnya. Aku sangat senang. Tapi ibu segera mengajakku pulang, karena kami akan mengunjungi tetangga yang lain.
Aku melihat seorang ibu menggendong beberapa boneka besar dari mobil ke dalam rumah. Ternyata tetangga kami yang lain memiliki mata yang kecil, mereka sangat cantik. Kulitnya yang putih membuatku bertanya kepada ibu. “Ibu, apa mereka juga Islam?”
“Bukan sayang, mereka agama Buddha.” Ibu pun menyuruhku membawa  makanan yang akan kami bawa kepada mereka.
“Wahhhh… aku punya banyak teman yang berbeda ya.. aku senang sekali. “Semoga teman ku ada juga yang agama Hindu dan Kristen Protestan.” Ucapku senang.
“Pasti sayang, nanti di sekolah kamu pasti punya banyak teman dari latar belakang yang berbeda.” Ibu mengelus rambutku.  Kami pun segera berangkat ke tetangga sebelah, dan ternyata anak mereka belum sampai. Katanya akan tiba satu minggu lagi bersama kakek dan neneknya.
“Yahh…..” spontan aku berucap.
Wanita itu tertawa dan mengelus pipiku,” sabar ya sayang. Nanti kalau sudah sampai, akan menyuruhnya langsung datang ke rumahmu”
“Benarkah itu tante?” tanyaku memastikan.
Ia mengangguk. Kemudian kamipun pamit pulang setelah beberapa saat berbincang. Ibu tidak mau mengganggu waktu mereka yang sedang sibuk membenahi belakang rumahnya.

Harian Analisa - Minggu, 8 November 2015 

IBUKU SAYANG


ilustrasi
Oleh: Elesia Maria Tamba.  “Sasy, Sandy..!! Ayo lekas sarapan nak.Nanti kalian telat ke sekolah.”Ibu setengah berteriak memanggil kami berdua.
Aku dan Sasy, kakaku, hanya beda umur satu tahun. Aku kelas 4 SD sedangkan kakak kelas 5 SD.
Seperti biasa, sarapan sehat tiap hari yang terdiri dari nasi dan telur mata sapi dipadu dengan susu  cokelat segelas penuh.
Aku dan kakak selalu menaruh kecap manis di atas telur untuk menambah nikmatnya.
“Ayo di makan sayang, jangan sampai ada sisa ya.”Ucap ibu sambil bersiap mengantar kami ke sekolah.
Aku dan kakak berada di sekolah yang sama. Sekalipun kami bisa menaiki bis sekolah, Ibu bersi keras untuk tetap mengantar dan menjemput kami.
Setelah sarapan, kami masuk ke dalam mobil dan seperti biasa, mengambil ponsel mama dan mulai memainkan game.
Di persimpangan jalan, mobil berhenti dan Ibu membalikkan badannya. “Anak-anak ku sayang, Ibu tidak suka melihat kalian bermain game di dalam mobil.” Ibu mengambil kembali ponselnya.
“Aduh, Bu? Sudah mau gameover.”Kakak sangat kesal.
“Itu tidak bagus untuk mata kalian sayang.”Jawab mama lembut.Itu adalah ciri khas mama dalam menasehati yang malah membuat kami enggan untuk membantah.
Hanya wajah cemberut yang biasa kami tunjukan jika tidak setuju dengan perintahIbu.
“Ma, kenapa lama sekali berhenti. Ayo jalan dong, tuh di depan sudah tidak ada lagi kendaraan yang lewatkan?” ucap kakak, masih dengan nada kesal.
“Sabar dong sayang.Kan lampunya masih merah.”
“Maksudnya, Ma?” tanyaku heran.Sudah hampir setahun aku diantar mama sekolah, tetapi aku tidak telalu memperhatikan itu karena selalu asik bermaingame, atau tertidur pulas di dalam mobil.
“Coba lihat sayang, lampunya ada berapa ya?”Ibu menunjuk lampu lalu lintas yang tepat berada di depan kami.
“Ada tiga, Ma. Ada warna merah, kuning, danhijau. ”Jawabku cepat.
“Wah, pintar anak mama.Tahu dari mana sayang?Tanya mama lagi.
“Di buku pelajarankan ada sih, Ma.”Jawab kakak Jutek.
Aku hanya menunggu mama menjawab pertanyaanku.Tidak menghiraukan kakak yang sudah dari tadi melipat tangannya karena kesal.
“Kalau warna merah berarti tandanya semua kendaraan harus berhenti. Kalau tanda kuning tandanya pelan-pelan. Dan hijau tandanya…”Belum lagi Ibu selesai menjelaskan, kakak sudah berbicara.
“Ma, itu Linda, temanku. Aku jalan sajaya..dekat lagi kok..” sembari membuka pintu kakak berlari keluar mobil.
“Tunggu San..!  Sandy!!” Ibu berteriak.
“Bu..lampunya hijau..” Aku menunjuk, tapi perhatian Ibu tidak teralihkan.
Dan tiba-tiba semua kendaraan yang lama terdiam, bergerak cepat seperti mengejar waktu di pagi hari, bunyi klakson terdengar riuh.Ibu tiba-tiba bingung dan takut. Ia ingin memarkirkan mobilnya sambil sesekali melihat kakak, yang entah dimana.
Brakkkkk… suara keras terdengar di seberang jalan.
“Tabrak lari!! Tabrak lari!!” semua orang membentuk kerumunan di tengah macetnya jalan.
Ibu tergesa - gesa keluar dari mobil.Aku pun mengikutinya. Ibu sepertinya tampak kacau, sampai-sampai ia sama sekali tidak menghiraukanku yang memanggilnya.
“Ma…mama.. Mau kemana?”
Mama masih diam, ia berjalan lebih cepat memasuki kerumunan orang.
“Sandyyy!!!!  Anakku…” Terdengar suara mama berteriak. Aku mencari tetapi mama tetap juga tidak tampak. Aku mulai menerobos kerumunan dan mendapatkan mama yang sedang memeluk kakak yang tergeletak di aspal.
“Cepat..cepat.. Bawa ke rumah sakit…” seorang bapak datang dan menggendong kakak ke dalam mobil Ibu.
Sesampainya di rumah sakit, kakak langsung ditangani dokter.
Ibu terduduk lemas di depan ruang UGD.
“Ibu…” panggilku pelan. Aku menangis melihat Ibuku yang tidak pernah seperti itu. Ia sangat menyalahkan dirinya.
Ibu menatapku sambil tersenyum, memelukku dan berkata. “Tidak apa-apa sayang. Kakak pasti baik-baik saja.”
“Kenapa kakak seperti itu Ibu?Apa dia ditabrak orang?”Tanya ku ingin tahu. “Ia sayang. Itu karena kakak tidak melihat lampu lalulintas sudah hijau, tandanya semua kendaraan sudah bisa bergerak maju.” Ibu mengelus rambutku. “Nanti Sandy jangan seperti itu ya nak.”
Aku mengangguk pelan. Kemudian Dokter keluar dan memberi tahukan bahwa kakak baik-baik saja. “Para perawat sedang membersihkan lukanya. ”Dokter menyudahi kalimatnya dan pergi. Aku dan Ibu sangat lega. ***

 Harian Analisa - Minggu, 20 Desember 2015

11 Desember 2014

Bunga-bunga berguguran, terbang terbawa angin. Begitupun kehidupan, berjalan dibawa waktu. Hari sungguh menyebalkan, membosankan. Banyak hal-hal yang ingin ku ucapkan dengan mulutku dan kutulis dengan jemaariku, tapi entah apa yang membuatnya terasa sangat cepat berlalu dan terlupakan begitu saja. AKu ingin bekerja dan bekerja.

AKu tahu itu adalah sesuatu yang sulit dan akan butuh waktu yang lama untuk mendapatkannya. Dan itu yang membuatku semakin lama semakin gila. Perngharapan yang dulu ku andalkan, aku mohon janganlah hilang.

DESTA DAN SI WANITA JALANG

Gita tertunduk lemas. Membaca setiap penggalan surat cinta di smartphone nya. Baris demi bari di baca nya, dan tak lupa dirinya menahan tangis dan menarik nafas panjang untuk sedikit menenangkan diri. Ini gila tapi dia bingung bagaimana email kekasihnya bisa terbuka dan tidak di 'sign out' di ponselnya sendiri.

Rasa ingin tahu Gita melampaui kemampuan mengatasi kesedihan. Ia membaca semua email yang berasal dari wanita yang pernah di ceritakan Desta, kekasihnya, sebelum kembali ke daerah ia bekerja. Tak kuasa membendung air mata, Gita terisak dan ingin menyakiti diri.

'Mengapa aku sebegitu bodohnya.'  Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri

Bukan hanya itu, ternyata mereka saling mengirim lagu rekaman dengan petikan gitar. Gita semakin meriang, teringat jelas bahwa ia sering sekali menginginkan Desta menyanyikan lagu kesukaannya, tapi sayangnya kekasihnya itu sama sekali tidak mau melakukan untuknya.

Apa maksudmu, bang? apa maksud semua email mu ini? 


Tangannya bergetar saat mengetik teks itu. Entah mengapa dia enggan mendengar suara atau penjelasannya.


Desta  meneleponnya berkali-kali. Tapi Gita masih tetap tidak ingin mengangkatnya.

Angkatlah, Dek. Biar aku jelaskan.  Pesan balasan dari Desta pun masuk.


Sebelum kamu berangkat, aku sudah berapa kali berkata. 'Perasaanku nggak enak, Bang. Nggak ada lagi yang mau abang sampaikan.' Jadi selama ini kau sudah membohongiku mentah-mentah.



Gita dan Desta saling berkirim pesan. Tapi tetap saja Gita masih menangis dan merasa sangat tersakiti.


Desta : Mau aku bilang kemarin itu, tapi nanti kamu marah. Kami tidak melakukan apapun, aku tidak             ada perasaaan dengannya. Kami hanya teman, dia sepertinya sangat butuh teman.
Gita   : Bukannya kau yang bilang dia punya pacar? sepertinya perhatianmu melebihi pacarnya.
            Jadi kau takut aku marah kalau tahu, jadi kalau sampai sekarang aku nggak tahu, masih                     jalan komunikasi kalian?
Desta : Sudah ku kurangi loh, Dek. Tapi dia yang masih menghubungiku.
Gita   : Apa buktinya? 
            waktu kita bertemu aku bilangkan 'nggak apa-apa namanya juga teman' tapi  kau                                 sama sekali tidak mau menunjukkan chattingan kalian di bbm. dan setelah ku paksa,                           katamu sudah kau hapus percakapannya. Kenapa kau lakukan ini sama ku bang?
            Dulu kau dan kawan-kawanmu berpikir aku nggak setia, kau sering mencurigaiku. tapi lihat               balasan kesetiaan yang kudapat.

Kringgg.....kringggg...

Ponsel Gita berdering. Ia melihat jelas nama Desta di layarnya.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara. Ia menahan tangisnya meledak.

"Kamu hanya salah paham dek." Tanpa basa-basi Desta langsung menjelaskannya.
"Dimana letak salah pahamnya?" Tanya Gita datar. Bukan karena marah, tapi agar isak tangisnya tidak lepas.
"Aku dan dia hanya berteman."
"Kalau begitu, jelaskan isi surat yang dikirimnya dan maksud video record itu?" serang Gita cepat.
"Dia nya itu dek."
"Jadi kenapa kau balas?" Gita semakin geram.
"Nggak enak kalau enggak di balas. Jadi terkesan sombong. Namanya juga teman alumni."
"Jadi samaku kau merasa enak melakukan ini?" serang Gita lagi.
Desta terdiam sejenak.
"Kalau memang benar alasanmu. Block dia dari semua media sosialmu." Kalimat tantangan mulai dikeluarkan Gita.
"Aduh, kenapa harus main kayak gitu, dek?" Nada keberatan Desta jelas sekali.
"Kau bilang dia yang masih menghubungimu? kalau memang kau niat nggak mau menghubungi dia, ya block saja."
"Jangan lah main block seperti itu dek?" Desta mulai meunjukkan sifat yang tidak sinkron dengan perkataan yang sebelumnya.
"Masih mau kau berhubungan dengan wanita jalang itu?" senggak Gita. Kesabarannya sudah hampir habis.
"Jaga mulutmu!" Desta balas menyenggak.
Gita terdiam dan tak menyangka, senggakan itu menjelaskan bahwa benar kekasih hatinya lebih memilih wanita jalang yang sudah mau menikah itu.
"Sekarang kau pilih, Aku atau Dia!" Akhirnya Gita putus asa, dan mengeluarkan pilihan yang tidak masuk akal.
"Jangan seperti itu lah, Dek.

Desta berkelit-kelit. Percakapan mereka saat itu tidak ada hasilnya. Gita memberikan waktu hingga beberapa minggu.Dan sialnya ia mendapati bahwa mereka masih berkomunikasi.

Dan hal yang paling tak ia sangka, saat ia meminta screenshot percakapan di bbm mereka. Bukti bahwa Desta memberitahukan bahwa ia marah.

Yang mencengangkan adalah balasan wanita itu. 'Sudahlah jangan bahas itu lagi. bahas yang lain saja'. Dan itu juga tidak cukup menjadi bukti kepada kekasihnya bahwa wanita itu memang sudah tidak beres. Gita menyerah.


Gita mengirim pesan kepada kekasihnya.
Sudahlah Desta. Aku sudah tidak tahu lagi mengucapkan betapa kecewanya aku denganmu. Aku dibohongi, aku menangis tapi kau lebih peduli padanya.
Kau tak pernah mengucapkan maaf sekalipun atas semua ini, atas semua kesakitan yang ku dapat karena perlakuan kalian. Seakan kau  merasa benar dan dikuatkan oleh alasanmu bahwa ibumu juga mengetahui wanita itu sebagai temanmu, tidak lebih.
Ketahuilah Desta, jika ibumu membaca surat itu dan menyaksikan video record itu ia pasti kecewa padamu. Kau secara tidak langsung merendahkan aku di depan wanita itu, dengan bertanya padanya bukannya kau memberikan statement tegas untuknya supaya tidak menghubungimu lagi. Selama bertahun-tahun, kau sering mengabaikan perasaanku dan lebih mendengarkan pendapat buruk orang lain tentangku.
Tapi aku sudah membuktikann betapa tulusnya aku mencintaimu. selama aku berjuang mencari pekerjaan sendiri disini, kau sama sekali tidak pernah membantu dan mendukungku tapi tetap aku mencintaimu. Jika kita marahan, kau jarang sekali meminta maaf atau meneleponku duluan. Gengsi dan harga dirimu sangat tinggi.
Setiap kali aku marah, kau lebih khawatir aku meng-update status yang buruk tentangmu ketimbang kau meneleponku dan menenangkanmu. Kau takut namamu tercemar. Kau lebih memaksaku memikirkanmu dan keluargamu tapi kau tidak melakukannya untukku. Kau takut aku menyebarkan surat dari wanita jalang itu? kenapa kau lebih peduli pada surat itu ketimbang perasaanku yang sudah hancur?
Kita sudahi sajalah Dest, Kita lebih baik mengambil jalan masing-masing.
Aku harap kau menemukan wanita yang lebih baik dari ku dan wanita jalang itu. 

Pesan terakhir itu menyudahi komunikasi Desat dan Gita.



EM