Gita tertunduk lemas. Membaca setiap penggalan surat cinta di smartphone nya. Baris demi bari di baca nya, dan tak lupa dirinya menahan tangis dan menarik nafas panjang untuk sedikit menenangkan diri. Ini gila tapi dia bingung bagaimana email kekasihnya bisa terbuka dan tidak di 'sign out' di ponselnya sendiri.
Rasa ingin tahu Gita melampaui kemampuan mengatasi kesedihan. Ia membaca semua email yang berasal dari wanita yang pernah di ceritakan Desta, kekasihnya, sebelum kembali ke daerah ia bekerja. Tak kuasa membendung air mata, Gita terisak dan ingin menyakiti diri.
'Mengapa aku sebegitu bodohnya.' Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri
Bukan hanya itu, ternyata mereka saling mengirim lagu rekaman dengan petikan gitar. Gita semakin meriang, teringat jelas bahwa ia sering sekali menginginkan Desta menyanyikan lagu kesukaannya, tapi sayangnya kekasihnya itu sama sekali tidak mau melakukan untuknya.
Apa maksudmu, bang? apa maksud semua email mu ini?
Tangannya bergetar saat mengetik teks itu. Entah mengapa dia enggan mendengar suara atau penjelasannya.
Desta meneleponnya berkali-kali. Tapi Gita masih tetap tidak ingin mengangkatnya.
Angkatlah, Dek. Biar aku jelaskan. Pesan balasan dari Desta pun masuk.
Sebelum kamu berangkat, aku sudah berapa kali berkata. 'Perasaanku nggak enak, Bang. Nggak ada lagi yang mau abang sampaikan.' Jadi selama ini kau sudah membohongiku mentah-mentah.
Gita dan Desta saling berkirim pesan. Tapi tetap saja Gita masih menangis dan merasa sangat tersakiti.
Desta : Mau aku bilang kemarin itu, tapi nanti kamu marah. Kami tidak melakukan apapun, aku tidak ada perasaaan dengannya. Kami hanya teman, dia sepertinya sangat butuh teman.
Gita : Bukannya kau yang bilang dia punya pacar? sepertinya perhatianmu melebihi pacarnya.
Jadi kau takut aku marah kalau tahu, jadi kalau sampai sekarang aku nggak tahu, masih jalan komunikasi kalian?
Desta : Sudah ku kurangi loh, Dek. Tapi dia yang masih menghubungiku.
Gita : Apa buktinya?
waktu kita bertemu aku bilangkan 'nggak apa-apa namanya juga teman' tapi kau sama sekali tidak mau menunjukkan chattingan kalian di bbm. dan setelah ku paksa, katamu sudah kau hapus percakapannya. Kenapa kau lakukan ini sama ku bang?
Dulu kau dan kawan-kawanmu berpikir aku nggak setia, kau sering mencurigaiku. tapi lihat balasan kesetiaan yang kudapat.
Kringgg.....kringggg...
Ponsel Gita berdering. Ia melihat jelas nama Desta di layarnya.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara. Ia menahan tangisnya meledak.
"Kamu hanya salah paham dek." Tanpa basa-basi Desta langsung menjelaskannya.
"Dimana letak salah pahamnya?" Tanya Gita datar. Bukan karena marah, tapi agar isak tangisnya tidak lepas.
"Aku dan dia hanya berteman."
"Kalau begitu, jelaskan isi surat yang dikirimnya dan maksud video record itu?" serang Gita cepat.
"Dia nya itu dek."
"Jadi kenapa kau balas?" Gita semakin geram.
"Nggak enak kalau enggak di balas. Jadi terkesan sombong. Namanya juga teman alumni."
"Jadi samaku kau merasa enak melakukan ini?" serang Gita lagi.
Desta terdiam sejenak.
"Kalau memang benar alasanmu. Block dia dari semua media sosialmu." Kalimat tantangan mulai dikeluarkan Gita.
"Aduh, kenapa harus main kayak gitu, dek?" Nada keberatan Desta jelas sekali.
"Kau bilang dia yang masih menghubungimu? kalau memang kau niat nggak mau menghubungi dia, ya block saja."
"Jangan lah main block seperti itu dek?" Desta mulai meunjukkan sifat yang tidak sinkron dengan perkataan yang sebelumnya.
"Masih mau kau berhubungan dengan wanita jalang itu?" senggak Gita. Kesabarannya sudah hampir habis.
"Jaga mulutmu!" Desta balas menyenggak.
Gita terdiam dan tak menyangka, senggakan itu menjelaskan bahwa benar kekasih hatinya lebih memilih wanita jalang yang sudah mau menikah itu.
"Sekarang kau pilih, Aku atau Dia!" Akhirnya Gita putus asa, dan mengeluarkan pilihan yang tidak masuk akal.
"Jangan seperti itu lah, Dek.
Desta berkelit-kelit. Percakapan mereka saat itu tidak ada hasilnya. Gita memberikan waktu hingga beberapa minggu.Dan sialnya ia mendapati bahwa mereka masih berkomunikasi.
Dan hal yang paling tak ia sangka, saat ia meminta screenshot percakapan di bbm mereka. Bukti bahwa Desta memberitahukan bahwa ia marah.
Yang mencengangkan adalah balasan wanita itu. 'Sudahlah jangan bahas itu lagi. bahas yang lain saja'. Dan itu juga tidak cukup menjadi bukti kepada kekasihnya bahwa wanita itu memang sudah tidak beres. Gita menyerah.
Gita mengirim pesan kepada kekasihnya.
Sudahlah Desta. Aku sudah tidak tahu lagi mengucapkan betapa kecewanya aku denganmu. Aku dibohongi, aku menangis tapi kau lebih peduli padanya.
Kau tak pernah mengucapkan maaf sekalipun atas semua ini, atas semua kesakitan yang ku dapat karena perlakuan kalian. Seakan kau merasa benar dan dikuatkan oleh alasanmu bahwa ibumu juga mengetahui wanita itu sebagai temanmu, tidak lebih.
Ketahuilah Desta, jika ibumu membaca surat itu dan menyaksikan video record itu ia pasti kecewa padamu. Kau secara tidak langsung merendahkan aku di depan wanita itu, dengan bertanya padanya bukannya kau memberikan statement tegas untuknya supaya tidak menghubungimu lagi. Selama bertahun-tahun, kau sering mengabaikan perasaanku dan lebih mendengarkan pendapat buruk orang lain tentangku.
Tapi aku sudah membuktikann betapa tulusnya aku mencintaimu. selama aku berjuang mencari pekerjaan sendiri disini, kau sama sekali tidak pernah membantu dan mendukungku tapi tetap aku mencintaimu. Jika kita marahan, kau jarang sekali meminta maaf atau meneleponku duluan. Gengsi dan harga dirimu sangat tinggi.
Setiap kali aku marah, kau lebih khawatir aku meng-update status yang buruk tentangmu ketimbang kau meneleponku dan menenangkanmu. Kau takut namamu tercemar. Kau lebih memaksaku memikirkanmu dan keluargamu tapi kau tidak melakukannya untukku. Kau takut aku menyebarkan surat dari wanita jalang itu? kenapa kau lebih peduli pada surat itu ketimbang perasaanku yang sudah hancur?
Kita sudahi sajalah Dest, Kita lebih baik mengambil jalan masing-masing.
Aku harap kau menemukan wanita yang lebih baik dari ku dan wanita jalang itu.
Pesan terakhir itu menyudahi komunikasi Desat dan Gita.
EM