Selasa, 23 Februari 2016

Menyongsong Diri Baru


Terik matahari membakar hatiku
Melumatkannya dalam rintihan-rintihan panas yang melumas
Berbaur mencari penyejuk alami dengan setetes keabadian
Pelan Gemercik air membasahi kulitku
Meresap rasanya sampai ke dalam urat nadi
Dinginya membuat sejuk darahku yang baru mendidih
Hidupku tetap bersuka menikmati segala hikmat
Kendati parau waktu menyaksikan kekuatiran
Tetap tak akan hidup dalam embun sesaat
Aku ingin hikmat ini abadi, meski pantau waktu tetap berlanjut
Walau kekuatiran kerab menghianat
Aku ingin hidup tetap mermartabat



                                                                                    By : Elesia Maria Tamba

BARISKU


Luhurkah aku
Menghayati jiya kandas ditangan
Menepis benar dihati
Barisku kini mulai merah

Taktis kah aku
membatu keras di suci
memberontak di benar
barisku kini merah

Legamlah aku
Cuci otak ku
Dengan rusaknya tali nadiku
Barisku kini sudahlah hitam


By: elesia

Seratus Butir Kekecewaan

Jika aku lahir untuk mencoba kegagalan agar belajar mengiklaskan mereka menang
Apa salah jika aku kecewa untuk pertama kali dan sampai kesekian kalinya?
Bukankan ini proses untuk menyadarkanku bahwa kemenangan orang lain itu bukan milikku
Yang jadi milikku adalah kekalahanku dan semua sisi serata isi yang ada di dalamnya
Bukankah kekalahan dan kemenangan sama-sama memiliki angka?
apa yang harus ku perbaiki? Usaha untuk menggapai kemenanganku yang diambil orang atau
Kegagalanku yang menjadi kunci masa depanku? Bukankah kegagalan hanya dianggap buruk bila yang memikirkannya jelas menolaknya?
Ini keseratus kalinya, aku tak ingin kegagalan ini sia-sia kuterima selama ini
Ku pejamkan sejenak mata, aku lelah berdiri di tepi gundahku meratap diri yang susah mekar
Sudah seratus butir kekecewaan ku kantongi dan ku simpan rapi di laci-laci memoriku
ku tak sadar begitu sabar memeliharanya dengan baik sampai terkumpul banyak
Kekalahan yang ku rasakan hampir  menutup semua kecemasan akan kegagalan
Sampai aku terjaga di ujung pagi… ku sadari ku masih sendiri…
Derita yang lama ku cintai membuatku lebih, sakit yang dulu ku nikmati membuatku lebih dan lebih lagi
Aku mekar… jiwa ku kan besar, karena aku hidup karena jiwa yang sudah tercerai berai


By:  elesia

SINGGASANA TERINDAH


Merahku berkobar ria
Saat ku menapak di tanah air beta
Merahku berkobar ria
Saat tubuhku menghirup sisa perjuangan
Yang baik benar rupanya

Kutabur harapan dan  tekad disini
Disini disinggasanaku
Di tempat aku lahir, bernafas
Serta berjuang untuk hidup

Kalau aku risau singgasanaku ini beralih tangan
Maka kesungguhanku memperjuangkan dengan usaha
Sungguh ini singgasanaku terindah
Tanah air tumpah darah
Yang benar-benar mendarah ditubuhku

Setumpuk cinta, rasa dan karya ku perjuangkan
Hanya untuk singgasanaku terindah
Darah, tulang dan nafasku adalah untuk singgasana
Singgasana tanah air Beta
Indonesia Tercinta
By: Elesia Maria Tamba

Insan Buangan

Apa yang terjadi
Terpuruk sudah singgasanaku
Dilanda kemunafikan semu
Dan pemihakan kuat hitam dunia
Nelangsanya diri ini
Melawan arus takut,
Mundur, pengecut
Jadi, mau apa?
Terakhir sudah jalanku
Berdiri tetap ditengah
Sebagai orang pengecut
Yang takut tak hidup
Inilah awal dari kesengsaraan
Insane buangan yang tak ada akhir


By: Elesia

Sudah Mulai Gila


Bukankah pertemuan ini mengisyaratkan air mata untuk membebaskan diri,
mengunci rapat sisa-sisa gemerlap kemenangan hati, kebanggaan diri
Ada yang hilang dalam pertemuan ini, tapi aku tak bisa segara mengetahuinya
Aku tidak mengenalinya lagi, dia berbeda sekarang, dia sudah mulai gila.
Gemercik api cinta tak lagi menjadi jembatan pertemuan asing ini
Dia jauh, lebih jauh dari apa yang menjadi harapan orang sengsara zaman dulu
Bahkan ia melewati batas ujung atasnya, ia menjadi teman tak terhingga di kekayaan, tapi tercela di moral.
Pertemuan ini menyudutkanku jauh kebelakang, dinding pun berbisik padaku untuk segera menjauh selagi anggurku masih merah cair menyegarkan.
Dia menghilang, sekarang hilang dari daftar teman terbaikku. Kini ia menjadi peringkat pertama di setiap daftar buruk di otakku
Pertemuan ini menjanjikanku sesuatu, bahwa dunia bisa berubah tapi uang adalah kunci sesatnya
Pertemuan ini mengajarkanku sesuatu, bahwa kepercayaan hanya akan menjadi serpihan buah kemiri bila kulitnya sudah dihancurkan batu.

Dan Pertemuan ini mengingatkanku sesuatu, bahwa nyatanya aku tidak berubah sedikitpun, yang berubah hanya kepribadian uang yang kini mulai murah hati di saku-saku hatiku.

Ada Benci Disini



Ada benci disini
Benci yang hari tiap hari bertumpuk membentengi maaf
setiap hari maaf berpencar mencari lubang pengampunan
Tapi benci lebih pintar untuk membentengi diri dengan keangkuhan
Sampai hujan kasih ikut meleburkan diri menghambat benteng benci semakin tinggi
Tetap saja benci tak setengah-setengah, sedangkan maaf hampir menyerah

Ada benci disini
Saat petir pun murka, benci tetap menggalang semangat diri
Kewajiban maaf kini bersisa duka, disisihkan penyesalan dan kehilangan pengampunan
Petir pun menemani maaf untuk mendapat sebuah pengampunan, benci semakin gila
Benteng kini namanya pencakar langit, itu jelas membuktikan perasaannya
Maaf menjerit, serasa benci memang benar saat ini, maaf pun terkapar

 Ada benci disini
Benci yang bertindak berlebihan untuk menerima seorang maaf atas kesalahannya sendiri
Maaf mulai tak bergerak, ia lemas untuk lagi bertindak, hati benci bergejolak duka
Benci menyesal tapi tak ingin tampak murahan, ia masih bebal
Maaf pun hanya sanggup berbisik pelan kepada angin
“bantulah benci untuk turun saat ia sudah lelah” dan maaf pun diam tak bergerak.


Karya : EM