Rabu, 04 November 2015

Untuk Ayah sang Pemimpin


Banyak yang berubah saat ini.
Kadang semua tindakan menghapus jejak seluruh kebaikan yang dulu sudah sangat keras di usahakan..
Ada banyak guli-guli kasar menerpa setiap niat baik yang begitu ikhlas dan mempesona.
Bahkan sebuah koreksi menjadikan tekstur guli semakin kasar dan hampir pecah.
Sama halnya dengan kebaikan yang tertunda oleh koreksi yang salah.
Pasrah tidak menjadikan semua hal yang baik itu muncul, akhirnya kekuasaan para korektor-korektor gila akan smakin besar
Wahai ayah yang hanya menghabiskah waktu untuk sebuah kebenaran, bertahanlah sebentar karena akan ada pertolongan. Dan bila Esok datang lagi, tetaplah bertahan sebentar dan sebentar lagi
sehingga ayah akan kuat diterpa badai.
Jadilah ayah yang paham akan kuasa yang sesungguhnya, biar kelak aku berani untuk bertanya kepada ayah, saat aku sudah sampai dipersimpangan jalan ambisi dan kebahagiaan yang tak terhingga.

Senin, 23 Februari 2015

Takut, alasannya.


Hati Bintang menggelitik saat mendengar seruan Bulan yang menggema keras dan lantang di ujung penyangga pembatas angkasa. “Hayoo.. sudah lama kamu begitu. Nggak ada perkembangan ya? atau nggak bisa berkembang? Move on donk!!” Bintang hanya tertawa kecil, tapi air mata keluar dari ujung matanya. Ia merasa pertanyaan itu tidak masuk akal, tapi hatinya tetap sakit saat mendengarnya. Kabar yang sungguh tak ingin didengarnya bisa begitu saja masuk ke telinganya tanpa sepengatahuannya. Sayangnya emosi membuat dirinya tampak lebih menyedihkan.. Ia terlalu takut untuk menjawab. Bukan, dia takut tidak sanggup melakukan sesuatu yang selaras dengan jawabannya. Hanya itu alasannya,ya.. hanya “takut”
23 Februari 2015